SEJARAH PERADABAN ISLAM II
DI
S
U
S
U
N
OLEH :
NAMA ANGGOTA : SYAHPUTRA
AINUN MARDIAH
SAFURA
SEMESTER
/ UNIT : IV/ 2
JURUSAN / PRODI : TARBIYAH / PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) ZAWIYAH COT KALA LANGSA
T.A
2013
KATA PENGANTAR
Assalamu
'alaikum Warahmatulahi Wabarakatuh
Pertama-tama kami mengucapkann puji syukur kepada Allah
SWT.yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-NYA sehingga penulisan makalah ini dapat terselesaikan dengan
baik.salawat dan salam senantiasa dipanjatkan kepada jujungan Nabi besar
Muhammad SAW sebagai Uswatun hasanah bagi hidup dan kehidupan kita di muka bumi
ini.kami juga ingin mengucapkan terima
kasih bagi seluruh pihak yang telah membantu kami dalam menyelesaikan tugas
ini.
Pada
kesempatan ini kami
juga ingin mengucapkan terima kasih kepada ayah dan Ibu yang telah
membesarkan,mendidik,dan menyayangi kami
dengan segala do’a pengorbanan dan air mata hingga saat ini.
Allhamdulillah kami ucapkan atas selesainya makalah
ini,yang membahas tentang PERKEMBANGAN DAN LEMBAGA-LEMBAGA ISLAM DI
MYANMAR.
untuk menyelesaikan tugas yang
diberikan.mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat dan menambah ilmu bagi kami sendiri dan bagi
setiap pembacanya.
kami juga memiliki
keterbatasan kemampuan.Maka dari itu seperti yang telah dijelaskan bahwa kami memiliki keterbatasan
dan juga kekurangan ,kami
bersedia menerima kritik dan saran dari pembaca yang budiman.kami akan menerima semua
kritik dan saran sebagai batu loncatan yang dapat memperbaiki makalah kami di masa yang akan
datang.
SEMOGA
MAKALAH INI DAPAT BERMANFAAT BAGI SEMUA PEMBACA.
BAB I
PENDAHULUAN
Latar
Belakang Masalah
Myanmar yang dahulu dikenal dengan
Burma secara geografis trletak di ekor anak benua India, disebelah barat
berbatasan dengan Laut Andaman, sebelah utara dengan India, timur dengan China,
dan selatan dengan Thailand. Luas wilayahnya adalah 678.000 km², dengan jumlah
penduduk 45 juta.
Agama Islam sampai ke Myanmar dibawa
oleh para pedagang Arab Muslim yang menetap di pantai Arakan. Kemudian di
Arakan inilah nantinya berkembang menjadi negara muslim, dan disini akan
berkembang pula orang-orang muslim yang nantinya disebut Muslim Rohingya.
Di Myanmar terdapat beberapa etnis yaitu : Burma, Karen,
Chin, Kachin, Shan, dan Rohingya. Etnis Burma yang mayoritasnya adalah orang
Budha nantinya akan mendominasi di Myanmar, karena di samping jumlah mereka
yang lebih banyak daripada kelompok-kelompok etnis yang lain, kemudian
menguasai berbagai bidang kehidupan di negara itu. Dan pada akhirnya, secara
politis, mereka pun mendominasi.
BAB II
PEMBAHASAN
PERKEMBANGAN ISLAM DI MYANMAR
Secara umum ada empat kategori kaum
muslim di Myanmar, yaitu Muslim India atau Kala Pathe, Muslim Myanmar atau
Zerbadee, Muslim Melayu atau Pashu dan Muslim Cina atau Panthay.[1]Dilihat
dari jumlahnya yang kuat hanyalah Muslim India dan Muslim Myanmar. Di bidang
kebudayaan kaum Muslim Myanmar semakin lama semakin berbeda dari orang Myanmar
yang beragama Budha.
Muslim Myanmar mengadopsi nama-nama
Myanmar, meskipun mereka juga menggunakan nama Muslim yang dipakai di wilayah
mereka dalam konteks tertentu. Secara politis, kaum Muslim Myanmar selalau
memiliki perasaan dan sikap positif
terhadap negara dan siap mengedintifikasi diri mereka dengan kebanyakan rakyat
Myanmar. Muslim India yang tinggal di Myanmar masih bersikap mendua dalam
memainkan peran yang bisa dan harus mereka terima di Myanmar dan dengan
demikian cenderung muncul sebagai kelompok yang kurang berakar dalam masyarakat
politik Myanmar.
Terdapat sedikit spesialisasi di
bidang ekonomi antar kaum muslim Myanmar dengan Muslim India. Walaupun
keduannya banyak bergerak di bidang bisnis dan dagang, namun kaum Muslim
Myanmar sebagian besar petani, hal ini sejalan dengan pola ekonomi nasional.
Sementara itu kaum Muslim India di Myanmar lebih dikenal sebagai pedagang yang
tangguh. Mungkin karena alasan inilah ketika sosialisme di terapkan secara kaku
pada periode pasca 1962, kaum Muslim India lebih menderita dibanding dengan
Kaum Muslim lainnya. Peranan mereka amat kuat di bidang ekonomi dihancurkan
oleh penguasa soaialis yang melarang perdagangan bebas, membatasi arus
perdagangan internasional dan menekan import.
Secara politisi akan tampak bahwa
kaum muslim di Myanmar menikmati proteksi dan kebebasan yang besar selama
periode demokrasi. Mereka tidak hanya mempunyai wakil yang cukup baik di
pemerintahan namun juga merupakan elemen politik yang penting dalam kehidupan
politik di Myanmar. Kudeta militer tahun 1962 yang disusul dengan sisitem
politik yang didominasi militer, dibawah kepemimpinan BSPP, satu-satunya partai
politik yang diakui, mencekik politik oposisi kaum Muslim dan mempersempit
ruang partisipasimereka di bidang politik. Perbedaan di kalangan Muslim secara
efektif digunakan untuk memecah belah kesatuan masyarakat Muslim, Organisasi
seperti ICB bersikap jauh lebih simpatik pada BSPP dan pemerintahMyanmar.[2]
Sementara yang lain, seperti Jamiatul Ulama bersikap mendua.
Dalam kasus tapal batas Arakan
dengan Bangladesh, di mana kaum Muslim dominan, RNLF terus mengadakan
perlawanan terhadap pemerintah Myanmar untuk mencapai tujuan mereka yaitu
memisahkan diri dari Myanmar. KMNLF berkolaborasi dengan KNLA, juga menentang
pemerintahan Myanmar dengan propaganda dan bergeriliya. Di sisi lain, juga
terwakili di BSPP dan juga dalam pemerintahan meskipun tidak untuk memperjuangkan
kepentingan masyarakat Muslim melainkan lebih untuk kepentingan Partai dan
Masyarakat Myanmar secara keseluruhan.
Saat ini komunitas Muslim di Myanmar
sangat teraniaya. Usaha mereka telah dinasionalisasi, tanah mereka disita,
sekolah mereka terkena de-Islamisasi. Mereka dilarang melaksanakan ibadah haji
dan hubungan mereka dengan Dunia Muslim sangat dibatasi, bahkan mengamankan
naskah-naskah Al Qur’an menjadi masalah.
Pukulan terberat penganiayaan
orang-orang Burma jatuh pada Muslim Arakan. Usaha dari berbeda-beda pemerintah
Burma terpusat pada pengurangan mayoritas mereka. Di wilayah ini pengusiran
besar terhadap mereka dilaksanakan sejak 1942. Memang, sesudah keluarnya
inggris pada 1942, gelombang kebencian terhadap Muslim membasahi wilayah Arakan
dengan darah. Orang-orang muslim dibunuh secara massal dan dua ratus ribu lagi
harus melarikan diri ke pakistan timur (sekarang Bangladesh), pakistan Barat
dan bahkan Saudi Arabia, sedangkan sekitar delapan ribu Muslim meninggal. Namun
aktivitas yang paling kriminal yang dipimpin oleh pemerintah dengan menggunakan
tentaranya adalah apa yang disebut “Operasi Raja Dragon”yang dimulai pada
Februari 1978. Pemerintah Rangoon memperkenalkan kartu identitas bangsa tetapi
menolak memberikan kepada Muslim Rohingya. Sebagai gantinya mereka ditawari
kartu pendaftaran orang asing, padahal kenyataan orang-orang Rohingya telah
menjadi warga negara Arakan selama lebih dari seribu tahun.[3]
Pada baru-baru ini terjadi lagi
kerusuhan di Arakan adalah serangkaian konflik yang sedang berlangsung antara
Rohingya Muslim dan etnis Rakhine di Myanmar. Penyebab langsung dari kerusuhan
ini tidak jelas, dengan banyak komentar mengutip pembunuhan sepuluh Muslim
Burma oleh etnis Rakhine setelah pemerkosaan dan pembunuhan seorang wanita
Rakhine sebagai penyebab utama konflik ini. Lebih dari tiga ratus rumah dan
sejumlah bangunan umum telah diratakan dengan tanah. Menurut Tun Khin, Presiden
Burma Rohingya Organisasi Inggris (BROUK), 650 orang muslim Rohingya telah
tewas, 1.200 hilang, dan lebih dari 80.000 telah mengungsi.
Menurut pihak berwenang di Myanmar,
pemerintahan juga mengeluarkan data tetapi lebih sedikit dari data yang di
keluarkan oleh BROUK,karena pemerintah menutupi konflik yang terjadi ini. Data
pemerintah Myanmar : kekerasan yang terjadi antara umat Budha etnis Rakhine
dengan Muslim Rohingya, meninggalkan 78 orang tewas, 87 luka-luka, dan ribuan
rumah hancur. Hal ini juga menyebabkan lebih dari 52.000 orang mengungsi.[4]
Tantangan Muslim kedepan yang
dihadapinnya dapat dilihat dari konflik-konflik yang telah terjadi, yaitu
diantaranya usaha untuk menuntut
mendapatkan otonomi dari pemerintah. Terfokus pada Muslim India di Myanmar yang
paling mendapatkan siksa dari orang Budha/pemerintahan di Myanmar. Sehingga
masalah perekonomian atau perdagangan Muslim India yang mungkin masih dikuasai Pemerintah
Myanmar dimasa yang akan datang dapat diselesaikan. Selain itu di bidang
pendidikan, yaitu harapan akan adanya materi pendidikan agama Islam di
sekolah-sekolah negeri/pemerintahan/kerajaan. Jadi dapat disimpulkan bahwa
dengan adanya organisasi seperti RNLF, KMNLF dan KNLA diharapkan mampu
mengatasi problem Muslim masa yang akan datang di Myanmar.
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat ditarik
kesimpulan bahwa Muslim di Myanmar menjadi minoritas dari segi populasi, kependudukan,
dan lain-lain. Penduduk ini terbagi ke dalam dua komunitas keagamaan : Muslim
(disebut Rohingya) dan Buddhis (disebut mogh).Mayoritas terbesar adalah
pengikut Sunni, tetapi mereka terbagi ke dalam tiga komunitas Muslim yang
berbeda-beda.
Secara umum ada empat kategori kaum
muslim di Myanmar, yaitu Muslim India atau Kala Pathe, Muslim Myanmar atau
Zerbadee, Muslim Melayu atau Pashu dan Muslim Cina atau Panthay. Tantangan
kedepan pun harus siap di hadapi oleh muslim Myanmar seperti perdagangan, perekonomian,
dan pendidikan. Jadi dapat disimpulkan bahwa dengan adanya organisasi seperti
RNLF, KMNLF dan KNLA diharapkan mampu mengatasi problem Muslim masa yang akan
datang di Myanmar.
Daftar Pustaka
Alan Coperman e.a. 2011. The Future OfThe Global Muslim
Population: Projection for 2010-2030, Washington DC: Pew Research Centre.
M Ali Kettani. 2005. Minoritas
Muslim di Dunia Dewasa Ini.Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Saiful Muzani.1993. Pembangunan
dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara. Jakarta: Pustaka LP3ES.
Saifullah.2010. Sejarah dan
Kebudayaan Islam di Asia Tenggara.Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Tahir Amin. 2002. “Myanmar” dalam
John L. Elposito.Ensiklopedi Oxford: Dunia Islam Modern. terj. vol V.Bandung:
Mizan.
Wikipedia. 2012. “Burma”. Dalamhttp://en.wikipedia.org/wiki/Burma.Diunduh Pada
Tanggal 18Desember 2012, pukul 15.21 WIB.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar